Hari syuting itu mahal: banyak orang berkumpul, alat disewa atau dipinjam, dan waktu terbatas. Shoot Scheduler memastikan semua detailnya terkumpul di satu tempat, bukan tercecer di chat. Satu jadwal syuting bisa mencakup beberapa konten sekaligus, jadi sekali jalan, beberapa brief kelar footage-nya.
Menyusun jadwal syuting
- Buka Shoot dari sidebar, lalu buat shoot baru: tentukan tanggal, jam, lokasi, dan brand-nya.
- Pilih konten (brief) yang mau diambil gambarnya di hari itu. Boleh lebih dari satu, ini yang bikin hari syuting efisien.
- Assign kru internal: siapa yang jadi videographer, siapa yang pegang lighting, dan seterusnya. Tiap orang yang ditunjuk dapat notifikasi, dan kamu bisa lihat siapa yang sudah konfirmasi hadir.
- Booking talent kalau perlu. Talent dicatat dengan rate per shoot, jadi biaya kelihatan jelas dari awal, bukan kejutan di akhir bulan.
- Booking alat dari daftar peralatan workspace: kamera, lensa, lighting, dan lainnya.
Semua isian itu otomatis terkumpul jadi call sheet, lembar info hari syuting yang bisa dibagikan ke semua yang terlibat. Nggak ada lagi "lokasinya di mana ya?" jam 6 pagi.
Kalau alat lagi dipakai shoot lain
Sistem mencegah satu alat dibooking dua jadwal yang bertabrakan. Kalau kamera yang kamu butuhkan statusnya masih nyangkut di shoot sebelumnya, ajukan release request, semacam "permisi, alatnya sudah selesai dipakai belum?" yang terkirim ke pemegang alat. Begitu dilepas, kamu bisa langsung booking. Semua tercatat, jadi nggak ada drama alat hilang jejak.
Untuk talent atau kru lepas tanpa akun
Talent nggak perlu jadi anggota workspace. Bagikan link portal talent, dan mereka bisa lihat jadwal, lokasi, dan kebutuhan sesi dari browser mereka sendiri.
Setelah syuting selesai
- Update status shoot jadi selesai.
- Unggah footage ke File workspace atau ke Google Drive brand. Begitu footage masuk, kartu kontennya otomatis bergeser ke tahap Edit, editor langsung tahu bahannya sudah siap.